Jaga Privasi Anak dari Pelaku Kejahatan dan Pelecehan Seksual

Kekerasan dan Pelecehan Seksual, ParentingModerator Peduli Sahabat

sumber gambar : http://www.kesekolah.com/images2/big/2014082615444510403.jpg

Dear para orang tua, seiring dengan keamjuan teknologi digital saat ini, kejahatan pun juga makin menunjukan taringnya melalui teknologi digital yang sekarang hampir setiap orang bisa menggunakannya, patut diwaspadai kepada setiap orang tua untuk selalu menjaga privasi anaknya terutama di dunia digital saat ini.

Karena jika kita kritisi di era saat ini sudah kian memprihatinkan perilaku kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak mulai dari penculikan, pengeksploitasi anak – anak hingga sudah sangat kronis saat ini bila kita mendengar yang namanya kejahatan seksual terhadap anak – anak.

Untuk itu perlu diketahui untuk para orang tua bagaimana cara menjaga privasi anak untuk mencegah berbagai perilaku kejahatan anak :

1.Jangan terlalu sering memposting foto anak di media sosial, apalagi kalo anak sedang tidak mengenakan pakaian atau sedang mandi.

Media sosial memang kadang menjadi sarana kita untuk berbagai sebuah cerita atau kebahagiaan salah satunya melalui sebuah foto. Di era sekarang sadar gak sadar para orang tua kerap memposting kegiatan anak – anak di sosial media. Jika kita tanya ya mungkin tak ada salahnya, apalagi bila baru mempunyai seorang anak tak jarang orang tua akan sering memposting kegiatan anak dari bangun sampai tertidur lagi.

Wahai para orang tua ketahuilah di era kemajuan digital saat ini banyak kejahatan yang dimulai dari media sosial. Sangat disayangkan juga jika ada orang tua yang memposting kegiatan anaknya yang sedang mandi dengan alasan masih kecil atau apapun. Bagi para pelaku pedofilia jika melihat hal tersebut mereka akan sangat antusias dan bergairah, maka berhati – hatilah, dan ingatlah pelaku pedofilia tak jarang ada juga yang berasal dari kalangan keluarga sendiri.

Maka dari itu bijaklah orang tua saat ingin membagi momen bersama dengan sang anak di media sosial, ini bukan soal tidak boleh ini itu tetapi sebagai orang tua patutlah mulai sekarang untuk pelan – pelan belajar tentang betapa besar pengaruh dunia digital terhadap dunia kejahatan terutama kejahatan terhadap anak – anak.

2.Berhati – hatilah mengenai informasi alamat rumah dan alamat sekolah anak

Saat orang tua memposting kegiatan anak di media sosial tak jarang mereka ikut menyertakan alamat atau lokasi kegiatan. Hal ini patut diwaspadai dan dianjurkan untuk tidak menyertakan lokasi terutama yang berkaitan dengan alamat yang penting seperti alamat rumah atau alamat sekolah anak. .Dengan mengetahui lokasi, pelaku kejahatan akan sangat mudah melancak target. Pasti pernah dengar ‘kan tentang kasus penipuan melalui telepon yang sering mengabarkan tentang kecelakaan anak di sekolah (jatuh saat bermain, jatuh dari tangga, dan sebagainya). Penipu biasanya tahu persis nama anak dan di mana ia sekolah.

Apalagi bagi para pelaku penculikan anak – anak informasi mengenai alamat tersebut sangatlah penting. Untuk itu berhati – hatilah dalam memberitahukan atau menyertakan alamat atau lokasi di media sosial.

3.Saat berada di kolam renang waspada dan pakaikanlah pakaian renang yang tertutup untuk anak – anak

Mengingat semakin maraknya perilaku pedofilia, waspadailah orang tua saat membawa anak di tempat umum terutama saat mengajak anak berenang di pemandian umun atau kolam renang umum pakaikanlah anak dengan pakaian renang yang tertutup.

Mengingat juga di kolam renang atau pemandian biasanya dari yang anak – anak sampai yang dewasa berada di kolam yang sama, walaupun ada juga kolam khusus anak – anak tapi tak jarang para orang tua ada juga yang tetap mengajak anak untuk berenang di kolam yang untuk umum, hal itu bisa menguntungkan bagi para pelaku pedofilia yang sulit untuk diketahui ciri – cirinya.

4.Stiker anggota keluarga yang ditempel di kaca mobil ternyata ada sisi buruknya.

sumber gambar : https://thenewswheel.com/wp-content/uploads/2014/05/stick-figure-family-danger-700×378.jpg
bisa juga dibaca di : https://thenewswheel.com/police-advising-families-remove-stick-figure-decals-bumper-stickers/

Mungkin bisa dibilang hanya sebuah tempelan tapi dalam hal analisa penjahat bisa lebih pandai dalam memindai dan mempelajari sebuah informasi untuk melakukan aksinya. Jadi berhati – hati juga dalam menempel stiker di kendaraan yang kita tumpangi terutama yang berkaitan dengan informasi keluarga entah stiker anggota keluarga, stiker parkir di perusahaan, stiker tempat anak sekolah. Bisa jadi itu menjadi media informasi si penjahat untuk melakukan aksinya.

Mari bersama menjadi orang tua yang sadar, bijak dan mau belajar, jangan menjadi orang tua yang kaku akan informasi, setidaknya dengan kemajuan teknologi juga bisa menambah pengetahuan untuk mengetaui dan mencegah tindakan kejahatan yang berbahaya bagi anak – anak kita.

https://pedulisahabat.org/?cat=59

Pola Asuh Anak Yang Ibunya Bekerja

Pembahasan mengenai bagaimana dilematisnya seorang ibu yang bekerja selalu menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Bahkan jadi panas kalau kita tidak bijak menyikapinya. selalu ada pro dan kontra, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Bisa jadi kalau saya yang melihatnya, (menurut saya niih yaa….) ibu yang bekerja adalah penyiksaan. Secara, seorang ibu juga bekerja (lagi) di rumah setelah pulang kerja. Oke, katakanlah punya khadimat untuk menyelesaikan pekerjaan harian rumah tangga, tapi ada 1 hal yang tidak bisa digantikan oleh khadimat, melayani suami. Bukan berarti kalau sama anak bisa digantikan, tapi nyatanya, kita kalau sama anak suka aja menggampangkan urusannya.

“Kan ada daycare….”
“Kan ada nenenya, ada kakenya, ada siapalah apalah…”

Naah….Bunda Elly kali ini memberi banyaaakk pencerahan mengenai polemik ini.

Menurut Bunda Elly, Ibu bukannya tidak boleh kerja. Tapi kerja apa dan bagaimana yang dilakukan. Sehingga dari situ, kita bisa mengukur “Seperti apa pengasuhan yang sudah ibu lakukan?”
Pola asuh ini sangat penting. Karena jaman sekarang berbagai bahaya mengancam anak-anak kita. Bukan hanya lingkungannya, tapi juga ancaman itu bisa ada dari dalam rumah kita sendiri. Bagaimana tidak?
Ibu dan ayah menyediakan gadget di tangan, wi-fi di rumah, dan games.
Belum lagi saat ini banyak kasus yang diberitakan mengenai KSA (Kekerasan Seksual pada Anak), dan banyak lagi.

Jadi bagaimana Bunda kita mengambil keputusan?

Tanya pada diri sendiri. “Untuk apa kita bekerja….?”
Apakah adanya pengaruh dari luar (tuntutan dari ibu, ayah, bahkan suami)….?
Atau murni alasan itu datang dari dalam diri sendiri (ada wiring dari pengasuhan orangtua dahulu)…?

Kalau alasan Ibu bekerja dengan alasan untuk membantu suami dalam mencari rejeki, itu keputusan yang salah. Karena sesungguhnya rejeki itu datangnya dari Allah. Jadi percaya apa yang sudah diberikanNya melalui suami Ibu. Dan bentuk rejeki itu tidak hanya uang, bisa kesehatan, waktu, dan lain-lain.
Melihat anak tumbuh dan berkembang, itu juga rejeki.
Saat anak jatuh, lalu menangis, itu juga rejeki.

Jangan pernah merasa kekurangan jika Ibu tidak bekerja.

Apabila itu datangnya dari pengaruh keluarga, terutama suami, maka wanita bekerja itu harus sadar bahwa hukumnya wanita bekerja adalah mubah. Jadi tidak meninggalkan tugas utamanya, yakni mendidik anak-anak. Dan bahwa mencari nafkah lahir batin adalah tugas utama dari seorang suami. Bekerja tidak menjadikan alasan untuk meninggalkan anak selama 24 jam.

Bagaimana bisa menganalogikan kerja selama 24 jam?
Bunda Elly menjawab, Ibu masuk kerja jam 8 pagi. Jadi ibu bangun pagi jam 4, katakanlah. Lalu bersiap-siap dan jam 6 sudah berangkat kerja. Anak belum tentu sudah bangun jam segitu. Kemudian ibu pulang jam 4 sore. Perjalanan dan sampai di rumah sudah jam 6 sore. Waktu yang sudah dipakai bekerja 8 jam. Lalu istirahat tidur, kita ambil waktu paling sedikit aja yaa…6 jam. Jadi dari waktu 24 jam, yang sudah terpakai 14 jam tidak bersama anak. Sisa 10 jam, belum porsi tidur anak yang lebih banyak. Sebenarnya waktu yang dihabiskan ibu bersama anak hanya 4 jam. Itu sudah cranky banget. Saat badan ibu lelah bekerja, yang ada hanya tinggal marah-marahnya setiba di rumah saat menghadapi anak yang mendadak tantrum, rewel, dan tidak bisa sesuai dengan apa yang kita mau.

Maka apa yang kurang dari anak yang orangtua nya bekerja ?

  1. Attachment (kelengketan)
    Kelengketan di sini adalah keberadaan ibu di saat anak membutuhkan. Kapan saja. Bukan hanya dari segi fisik, namun juga jiwanya. Maka dalam buku “Bicara Bahasa Anak” Bunda Rani Razak Noe’man (penulis buku, ex-trainer YKBH) bahwa adanya penelitian mengenai pengaruh perasaan terhadap menerima informasi pada otak anak.
    Semua orangtua menginginkan anaknya cerdas, pintar, dapat ranking bagus dan masuk sekolah favorit. Berbagai upaya yang terbaik pun dilakukan orangtua. Namun upaya-upaya tersebut tak berarti apabila Ayah dan Bunda tidak memahami perasaan anak. Parasaan anak yang terabaikan akan mempengaruhi kerja otak dalam menerima informasi, terutama saat anak sedang merasakan perasaan negatif, seperti kesal atau marah. Sehingga apapun informasi yang masuk hanya bertahan di sistem limbik dan akan segera terlupakan.
    Sehingga mereka akan merasa kesepian, dan akhirnya pelariannya ke games dan pornografi. Anak-anak menjadi berperilaku buruk dan menyebalkan.
    Tapi rata-rata orangtua tidak sadar akan hal itu.
  2. Komunikasi Yang Miskin.
    Ketika kita lelah dengan pekerjaan, mana sempat kita melakukan beberapa hal berikut :
    ♥ Membaca bahasa tubuh
    ♥ Menebak perasaan
    ♥ Menamai perasaan
    ♥ dan Menerima apa yang dirasakan anak

Karena sebenarnya anak yang di tinggal Bunda bekerja akan mengalami kecemasan. Cemas berpisah dan cemas dengan wajah asing. Tapi kebanyakan dari kita (lagi-lagi) abai terhadap hal ini.
Anak akan merasa tidak dihargai dan hubungan dengan orangtua menjadi tidak baik, dan kebanyakan karena kelelahan, orangtua cenderung menggunakan 12 gaya populer dalam mendidik. Baca di tulisan saya berikut ini….klik disini.
Anak-anak yang tidak tercukupi kebutuhannya akan mudah sekali melakukan kegiatan-kegiatan negatif, seperti adiksi pornografi dan berujung pada ingin meniru karena dengan pornografi, ia merasa kebutuhannya terpenuhi. Otak senang, sedih dan kesepian pun hilang.

** Tapi, ada kok anaknya teman yang orangtuanya bekerja, tapi mereka baik-baik saja….
Kemudian Bunda Elly menjawab dengan singkat dan jelas. “Ukurannya apa? Apa yang dilihat mata, tidak bisa menggambarkan apa yang anak rasakan.”

3. Kebutuhan Anak Tidak Terpenuhi
Mereka akan memiliki ruang yang bolong-bolong. Siapa yang bisa mengisinya? Gadget? NO.
Ruang kosong itu haruslah kembali lagi pada Ayah dan Bunda yang mengisi. Hutang orangtua pada anak.

Ada kake, nene, om dan tante?
Mereka semua tidak se-Qualified anda, orangtuanya sendiri.

Jadi,
Bagaimana kalau yang sudah terlanjur bekerja, Bu Elly?
♥ Bikin list apa yang hilang dari pengasuhan Ibu kepada anak.
Setelah itu, sadari bahwa ayah juga diperlukan dalam sosok pengasuhan. Bukan hanya Ibu. Jadi mencari rejeki adalah tanggung jawab ayah. Pendidikan anak juga tanggung jawab ayah. Karena sosok ayah bukan hanya diperlukan sebagai figur untuk anak laki-laki namun juga untuk anak perempuan.

Maka apa yang dilakukan Ayah atau Ibu…?
Sebelum sampai di rumah, kira-kira 10-15 menit, silahkan BC ke beberapa grup dan teman yang biasanya diajak what’s up-an atau bbm-an. Bilang “Saya tidak bisa menjawab messages selama 1 jam ke depan, karena akan bertemu anak di rumah. Kalau anda tidak keberatan, tinggalkan messages dan akan saya balas nanti yaa…”

Setelah di rumah bertemu anak, tanyakan pada anak….Apa yang anak rasakan saat ini? Tadi saat sekolah?

Dan jangan pernah berpikir bahwa ANAKKU BAIK-BAIK SAJA.

Selama 1 jam ke depan, lakukan kegiatan bersama anak dan anggota keluarga yang lain. Misal : Menata meja makan.
Semua anak terlibat dan ajak komunikasi anak satu per-satu.
Ingat,
Kegiatan ini NO GADGET.

73c7453731d1f746b5528044d32c4176

Bagaimana siih…Bunda Elly menanyakan perasaan anak?

Misal bertanya pada anak. Bukan “Gimana tadi di skolah, nak?”
“Tadi belajar apa?”
“Ada Peer apa hari ini?”
Karena itu semua di luar diri anak.

Tanyakan yang ada dalam diri anak, misal :
“Kaka sedang kesal?”
“Kesal kenapa, sayang..? Capek?”
(biarkan anak menjawab, “Capek, Ma”)

Ibu tanya lagi, “Yang capek apanya, nak…? Badannya? Perasaannya?”
(Dijawab dengan anak “Otaknya, Ma….yang capek.”)

“Mama boleh tau capeknya otak itu gimana, nak?”

Terus gali perasaan anak, tanya dan Tebak Perasaan Anak.

Setelah menebak perasaan, selanjutnya kita bisa belajar Baca Bahasa Tubuh.
Karena kata-kata yang keluar dari mulut disebut bahasa verbal dan bahasa verbal sangat mungkin dimanipulasi. Namun apabila membaca bahasa tubuh, yang lebih nyaring dari bahasa verbal, selama 5 – 10 menit saja….maka anak yang tadinya bersedih, bisa menjadi gembira, karena merasa orang tuanya fokus pada dirinya.

Jadi bagaimana kalau hal tersebut dilakukan oleh seorang Ayah kepada anak?
Anak akan merasa “Tumben niih….bokap gue nanya-nanya apa yang gue rasain…”
Kira-kira baik engga perubahan seperti itu?

Ibu sebaiknya pun jangan pernah bilang “Kalau engga mau nurut, mama kasih tau ayah yaaa…”
Jadi seolah-olah sosok Ayah adalah algojo yang sukanya marah-marah.

Bunda Elly, bagaimana kalau kita menggunakan jasa asisten rumah tangga?
Boleh,
Namun cek beberapa hal sebelum merekrut asisten. Diantaranya :

  • Cek pengasuhannya
    Dia berasal dari keluarga utuh atau pecah.
    Kalau bisa ditanyakan kenapa pecahnya.
  • Hatinya lembut atau keras
    Kelihatan dari sikapnya terhadap anak-anak. Ini tidak bisa dibuat-buat. Biasanya yang berhati lembut, akan lembut juga pada anak.
  • Agamanya bagaimana
    Sholat atau engga. Takut sama Allah engga.
  • Bisa diajak bekerjasama
    Kalau memang dapat cutinya sedikit dari kantor, jangan langsung tinggalkan anak dengan pengasuhnya. Perhatikan dulu selama seminggu sampai 10 hari. Get along!
  • Selalu melibatkan orangtua dan mertua dalam mengambil keputusan
    Karena anak anda, bukan satu-satunya milik anda. Ada orangtua dan mertua yang memilikinya juga.
  • Cek history di handphone nya
    Bagaimana caranya? Bisa pinjam dulu HP yang digunakan si pengasuh.
    Lihat,
    Ada konten pornografinya tidak dalam history HP nya.

Jadi solusi bagi Ibu yang bekerja bagaimana?
Bekerja di saat anak yang paling kecil sudah berusia 8 tahun. Apabila puya 3 anak, yaa…berarti anak ke 3 yang berusia 8 tahun.
Jangan pernah membedakan pengasuhan tiap anak, karena mereka memiliki hak yang sama. Tidak ada yang boleh menjadi “korban” saat orangtua nya bekerja.

57f0b95bab95ec148f0ef68059447677

Semua anak berhak mendapat kasih sayang orang tua nya

Related

[Materi 1] : Overview Ibu ProfesionalMay 12, 2016In “Rumah Belajar IIP Bandung”

[Bunda.Cekatan] Bunda, Manager Handal KeluargaJune 10, 2016In “Rumah Belajar IIP Bandung”

Menyadari Anakku Adalah Bintang #day1August 17, 2017In “Bunda Sayang”

Puisi di Majalah Horison

SARANG BURUNG YANG JATUH SETELAH HUJAN

deras tangan hujan telah mengukir kisah lain pada dinding senja. tentang sejarah

yang terpaksa usai sebelum benar menemukan tubuhnya. Padi-padi menyaksi,

pun ilalang yang semakin meninggi, juga tanah yang sementara ini mengabadikan

sisa berhi musim.

selain kisah ngilu yang diukir deras tangan hujan ada juga fragmen para penunggu

di corong waktu. satu persatu melangkah menjelma abu

: tapi mengapa harus siggah di genangan mataku?

Tanah Serang,2008

Rodhi Fakhrurrozi




Rodhi Fakhrurrozi

Puisi ini pertama kali saya baca di majalah horison tahun 2008. Saat itu saya membacanya di perpustakaan SMA. Itulah pertama kalinya saya membaca majalah horison. Setelah itu, saya ingin membaca majalah-majalah horison lagi. Saya sudah membaca 3 majalah horison setelah itu.

Saat kuliah, tahun 2013, saya ingin membeli majalah horison di sebuah toko buku di Kota Surabaya. Saya melihat Majalah Horison di sebuah rak, berjajar dengan majalah-majalah lain seperti majalah otomotif, bola, dll. Saya melihat label harga majalah horison adalah 20 ribu. Namun, saat itu saya tidak jadi membeli Majalah Horison. Saya lebih ingin membeli buku kumpulan puisi sastra lama seperti karya Khairil Anwar.

Pada tahun 2020 saya burgabung dengan komunitas blogger Ikatan Kata. Saya bertemu dengan teman-teman yang juga menyukai bacaan sastra. Mereka saling berbagi info, sehingga saya tahu bahwa majalah horison sudah tidak terbit lagi. Wah, sayang sekali menurut saya. Lalu, teman di IK memberi kami link akses ke Horison edisi lama dalam bentuk pdf. Jadi sekarang bisa membaca puisi-puisi majalah horison lama.

Create your website with WordPress.com
Get started