The Exit Door

Tulisan ini adalah resume dari Seminar 7 Pilar Pengasuhan oleh Ibu Elly Risman yang diselenggarakan di Bandung, 11
Maret 2017. Padatnya materi membuat resume ini perlu disajikan dalam beberapa
bagian. Untuk membaca bagian-bagian selanjutnya, klik disini.

Adalah pemandangan
yang sangat biasa ketika kita melihat anak-anak
sedang sibuk bermain gadget
 di era digital seperti sekarang ini. Di waktu-waktu
kesehariannya, mereka akrab sekali dengan smart
phone
, laptop canggih dan gadget lainnya. Mereka kian akrab dengan media sosial dan berbagai permainan yang tersajikan
secara online
. Tak dapat dipungkiri juga bahwa banyak sekali waktu-waktu
yang mereka habiskan untuk memandangi layar di genggaman. Apakah yang sebenarnya dilakukan oleh kebanyakan dari mereka?

Fenomena anak
dengan media sosialnya semakin hari semakin membuat miris. Betapa tidak, kita
tidak bisa menutup mata dari adanya anak-anak atau remaja yang menggunakan media sosial untuk monetize
(menghasilkan uang) dengan cara yang tidak benar.
 Entah mengapa video-video
yang mereka buat melalui Bigo Live atau yang lainnya memang terkesan tidak
layak untuk ditonton, tapi ternyata digemari oleh banyak remaja. Siapa yang
hari ini tidak tahu tentang Awkarin,
video Skip Challenge, dan sejenisnya
? Video tersebut mudah sekali menjadi viral. Ada juga fenomena tranding topic LGBT anak-anak di Twitter dimana anak-anak seolah
dengan bangganya menunjukkan bahwa mereka menyukai sesama jenis.
Astaghfirullah! Belum lagi, gaya berfoto
lordosis dan sklerosis
 yang sekarang seolah menjadi gaya populer di
kalangan remaja. Dimana rasa malu mereka? Apa
yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka?

Tidak hanya
media sosial, game online juga
mengambil peranannya tersendiri dalam bertambahnya deretan kasus yang
melibatkan anak dan remaja. Hampir muak rasanya ketika mengetahui deretan games bermuatan kekerasan dan pornografi.
Tapi ternyata, ada yang lebih dahsyat lagi: game bunuh diri. Namanya Blue
Whale
, games asal Rusia yang dibuat oleh developer bernama Vkontakte itu
terkenal dengan sebutan suicide game. Ya, game bunuh diri! Game
ini berisi 50 tantangan yang harus dipenuhi dalam waktu 50 hari, dan tantangan terakhirnya adalah membuktikan
pada administrator bahwa pemain akan atau berhasil bunuh diri
. Di Rusia
sendiri, dalam setahun 130 anak dan remaja berusia belasan diduga meninggal
akibat mengikuti permainan ini. Allah,
mengapa ini bisa terjadi?

Bagaimana dengan
yang terjadi di sekitar kita sekarang? Gadget
diberikan begitu saja, rumah dengan akses bebas terhadap internet karena adanya
wifi, TV berbayar, dan lemahnya kontrol orangtua terhadap anak
. Bukan tidak
mungkin jika kasus-kasus di atas semakin lama akan semakin bertambah. Mengapa demikian?
Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa kasus-kasus
tersebut adalah the exit door

yang diambil oleh anak-anak dan remaja yang bermental BLAST (Bored,
Lonely, Afraid, Angry, Stress and Tired)
 dan merasa dirinya tidak berharga di dalam keluarga.

Kalau begitu,
apa yang perlu kita lakukan sebagai orangtua dan calon orangtua?

https://novieocktavianemufti.wordpress.com/tag/ellyrisman/

Elly Risman: “Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua (I)

7

Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Majalah Hidayatullah edisi September 2006

Rubrik FIGUR

Tulisan 1:

Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orangtua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi seorang ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara ayah si Fulan dulu mendidik dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah-lembut, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara lemah-lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara kekerasan pula. Jadi terjadi semacam pewarisan cara mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudaranya, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifannya belajar dari lingkungan sosialnya itu.

Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orangtua lain yang cuek, tak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan instink dan pelajaran dari orangtuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan.

Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang Muslimah terdidik yang membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet, telepon seluler, dan media cetak.

Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.

Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.

Elly Risman adalah satu dari jutaan orangtua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian berketetapan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan.

Bersama sejumlah kawan dekatnya, antara lain Neno Warisman, Erry Sukresno, Hidayat Achyar, dan Tommy Sutomo, pada tahun 1998 Elly mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH).

Melalui yayasan tersebut Elly mengajak para orangtua untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang seharusnya, sehingga kualitas pengasuhan anaknya menjadi semakin baik. Dan jika ada kekeliruan selama ini dapat diperbaiki. “Kami siap membantu orangtua yang mau berubah,” jelas wanita kelahiran Aceh Barat ini.

Menurutnya, selama ini orangtua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari. “Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya,” jelasnya.

Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. “Orangtua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang di sana juga banyak bermuatan informasi negatif,” tambahnya.

Kegiatan YKBH secara garis besar ditujukan untuk orangtua, remaja dan anak-anak. Kegiatan tersebut berbentuk workshop dan pelatihan parenting (pengasuhan dan pendidikan anak), serta pelayanan konsultasi untuk pribadi, keluarga, pasangan dan anak-anak.

YKBH juga membuka program pelatihan untuk anak-anak agar siap menghadapi tantangan hidupnya yang semakin berat. Untuk mendukung program itu, sejak tiga tahun lalu Elly merekrut 30 anak-anak muda, mahasiswa, sarjana yang baru saja lulus, dan psikolog muda. Mereka dilatih selama hampir enam bulan untuk menjadi konselor bagi rekan sebayanya dan anak-anak.

Jika yang menyampaikan orang muda, diharapkan komunikasi antara pelatih dan yang dilatih lebih lancar, terutama dalam membincangkan soal seksual. “Ternyata memang benar, kepada kakak pelatih yang muda-muda itu anak-anak jadi lebih terbuka mengemukakan pertanyaan dan pendapatnya,” terangnya.

Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul UlumSaiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung di kantornya, Elly memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?

Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami-istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?

“Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayangan porno dari televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan dari pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya,” papar Elly.

Selanjutnya Elly berbicara panjang lebar kepada majalah Hidayatullah tentang gawatnya ancaman yang mengintai anak-anak kita, “Karena anak-anak Indonesia sekarang sudah dijadikan komoditi industri seks internasional.”

Lantas apa yang harus dilakukan para orangtua Indonesia? Silakan simak pendapat selanjutnya berikut ini:

Melihat problema yang dihadapi remaja kita saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya ya?

Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV. Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.

Seberapa besar kesalahan orangtua menghadapi anak?

Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.

Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?

Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.

Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?

Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.

Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.

Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.

Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?

Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.

Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa
seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.

Bagaimana supaya orangtua menyadari hal itu?

Mereka harus mau belajar menjadi orangtua yang baik. Selama ini kan berjalan alami dan turun-temurun. Mana ada sekolah bagi calon orangtua di kalangan umat kita. Padahal di kalangan Nasrani jika seseorang ingin mendapatkan ijin menikah dari gereja, syaratnya harus lulus pelatihan pernikahan selama 6 bulan. Jika tidak lulus, maka ia tidak diijinkan menikah di gereja.

Apakah seharusnya kita juga seperti itu?

Iya, kita seharusnya juga punya Islamic parenting school (sekolah Islam non formal untuk mendidik menjadi orangtua yang baik). Materinya juga sudah jelas. Islam memiliki materi yang sangat lengkap menyangkut keluarga. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahma. Misalkan, ketika orangtua menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak, ya kita kembalikan pada agama. Prinsipnya, kalau kita tahu jangan anak disuruh belajar pada orang lain. Makanya yang namanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Jadi orangtua mesti banyak mendengar.

Bagaimana cara YKBH melakukan pelatihan pendidikan seks pada anak sekolah?

Setelah diberi pelatihan lalu disuruh membuat pertanyaan apa saja. Setelah itu dilihat mana pertanyaan dari anak yang sudah tahu seks dan yang belum. Ppada pertemuan berikutnya anak-anak yang sudah tahu dipisahkan dengan anak yang belum tahu. Tidak bisa dicampur. Istilahnya kita beri kelas khusus pada mereka yang tahu dan ingin tahu. Pada kenyataannya, memang justru kelas yang khusus itulah yang banyak diminati. Pada kelas ini, pertanyaannya sudah dahsyat-dahsyat. Anak-anak tak segan-segan menanyakan soal seks. Padahal seharusnya saya ini kan seusia dengan neneknya. Toh mereka berani.

Pendidikan seks bagaimana yang baik untuk anak?

Pendidikan seks itu ada dua, kalau terlalu terbuka seperti di Amerika juga berbahaya. Tapi, disembunyikan juga salah. Diberi informasi itulah yang penting. Jika ada pertanyaan tentang seks, orangtua harus memiliki kiat-kiatnya. Yaitu tenang, self control, dan take it easy. Yang kedua, cek pemahamannya. Jangan-jangan si anak lebih tahu, mereka cuma ngetes. Kalau merasa kaget, katakan, “Saya tidak pernah mikir.”

Nah, ketiga langkah ini membuat suasana tenang, tidak reaktif dan punya kesempatan berpikir menjawab atau tidak. Poin selanjutnya, beri jawaban yang terbaik plus norma agama. Jadi, dari kecil iman dan syariah itu sudah masuk dalam diri anak-anak. Di sinilah perlunya pelatihan bagi calon orangtua dan orangtua, agar memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi anak-anaknya.

Bersambung…

Sumber: hidayatullah.com

harkat wanita

Harkat wanita 
Salah seorang kawan saya yang juga pemerhati issue​ gender Dr Henri Shalahuddin berseloroh tentang tradisi pawai hari Kartini di mana banyak anak-anak didandani seperti layaknya perempuan dewasa lengkap dengan make up yang agak tebal, dia mempertanyakan apa tujuan anak-anak dipermak dengan make up? Apakah untuk mengenalkan anak-anak dunia tabarruj?..
Pendapat sahabat saya mungkin terdengar keras, tapi jika difikirkan banyak benarnya. Bukankah kita pernah dikagetkan oleh Awkarin yang dalam usia sangat muda mengekploitasi kecantikan di dunia maya? Di satu sisi banyak di antara orang tua khawatir akan fenomena tersebut, tapi di sisi lain anak-anak perempuan sudah dibiarkan, diajarkan bahkan dibiasakan bersolek yang eksesif sejak kecil walau hanya sekali setahun di hari Kartini. 

Apakah ini yang dinamakan kebangkitan wanita? 

Bagi saya, jika kita ingin memperingati kebangkitkan wanita  adalah dengan mengembalikan wanita ke khittah mereka yang utama yaitu di rumah, mengababdikan diri membangun generasi dari dalam rumah. 

Betul… saya hanya ingin istri saya ditangani oleh dokter wanita jika sakit,  suka anak gadis saya diajari oleh guru wanita di sekolah, artinya kita masih memerlukan wanita-wanita di banyak lapangan pekerjaan, tetapi apapun karir yang diambil seorang wanita takdir dan fitrah sebagai istri dan ibu adalah yang utama. 

Harkat wanita juga perlu dinaikan dengan menghentikan ekplotasi kecantikan wanita, ya, sudah saatnya wanita lebih memikirkan untuk mempercatik diri dari dalam, berbekal ilmu dan dihiasi oleh iffah, menjaga kehormatan dari hal-hal yang diharamkan. 

Tetapi apapun, kembalinya wanita ke khittahnya harus didukung oleh dua aktor penting, yaitu ayah dan/atau suami yang keduanya menentukan hala tuju kehidupan wanita, baik sebagai anak ataupun istri. 
Seorang ayah dari anak perempuan harus mahir mengajarkan iffah, qanaah, dan betah di rumah. Membantu mempersiapkan anak gadisnya menjadi ibu di masa depan di sampai membekalinya dengan pendidikan yang tinggi. 

Seorang suami harus siap mencukupi kebutuhan rumah, sehingga istri siap untuk tinggal dan mengabdikan diri di rumah, di samping memenuhi kebutuhan sosial dan psikologikal istri yang bertugas 24 jam di rumah. Harus siap dihujani cerita pasangan tentang apa yang terjadi di rumah ketika kita tidak ada, walaupun tidak mudah, karena keadaan yang terkadang terlalu penat setelah seharian bekerja. 

Mengangkat harkat martabat wanita bermula dari rumah, dan adalah pekerjaan berjamaah kita semua. 
Untuk para ibu yang mengabdikan diri di rumah meski ijazah rapi tersimpan atau hanya indah dipajang, selamat menjadi inspirasi bagi anak-anak, dan semoga terus menjadi sekolah pertama bagi generasi yang akan datang. 
@faisalsundani 
#TarbiyahPubertas #Fatherhood

https://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/

MENJADIKAN IBADAH ANAK KITA MENYENANGKAN


Seminar Parenting oleh Ibu Elly Risman, Psi. YKBH
CEO Building, Jakarta. 30 Agustus 2017

Resume oleh Vivi Ermawati

Bismillah,

Mengapa anak diajarkan beribadah?

Tujuannya melaksanakan perintah Allah Ta’ala
Sesuai dengan firmanNya :

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”
(QS: adz-Dzariyat;56)

MENGAPA IBADAH PERLU MENYENANGKAN?

Karena target yang akan kita latih adalah anak- anak. Sesuai dengan cara kerja otaknya, yang berkembang pada anak usia di bawah 7 tahun adalah pusat perasaan. Parenting is all about wiring. Jadi wiring anak tentang ibadah yang kita ingin bentuk. Sebagai orangtua, kita perlu menyadari tantangan membuat anak mampu beribadah dengan benar dan baik. Dan ini membutuhkan kerjasama orangtua, tidak bisa ibunya saja, atau ayahnya saja.
Tanggung jawab orang tua adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Jadi bagaimana kita bisa membuat anak- anak paham alasan beribadah, tidak terbebani dan tidak menolak sehingga anak SUKA dan BAHAGIA melakukannya. Ukirlah kenangan yang indah.
Yang orang tua perlu pahami bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan ke pemiliknya. Mereka bisa jadi kenikmatan, tantangan bahkan musuh. Maka dari itu kita membutuhkan perjuangan dalam mengasuh mereka dalam bentuk pikir, jiwa, tenaga dan biaya. Semua kita lakukan harus karena Allah.

Anak-anakmu bukan pilihanmu, tapi takdir. Jadi baik anak ataupun kita, orangtuanya tidak bisa memilih. Maka terimalah takdir itu sebaik2nya.

💗 Tantangan Mengajarkan Anak Beribadah Menyenangkan 💗

1. Tantangan dari Dalam Diri Sendiri dan Pasangan

Look in.
♧ Bagaimana masalah ibadah ini ditanamkan pada anda dan pasangan. Bagaimana rasa kenangan tentang ibadah itu diingat?

♧ Bagaimana pemahaman agama? Terbatas atau tidak?

♧ Orang tua harus memiliki kesadaran bahwa tujuan utama mengasuh anak adalah menjadikan mereka Penyembah Allah

♧ Penanggung jawab utama : AYAH!
Ayah harus menggariskan semua hitam di atas putih mau menjadi apa anak kita. Berapa menit masing- masing anak dapat berbicara dan berinteraksi dengan ayah? Kesimpulan dari penelitian di Harvard bahwa anak-anak yang dekat dengan ayah akan menjadi orang dewasa yang suka menghibur orang lain, punya harga diri yang tinggi, prestasi akademis di atas rata-rata dan lebih pandai bergaul.

♧ “Nilai” anak yang rendah
“Orang kalau diabaikan perasaannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki tidak akan berharga dirinya.”

♧ Kurang ilmu tentang prinsip dasar cara kerja otak & pembiasaan ibadah pada anak

♧ Hidup yang rutin mekanistik

♧ Bagaimana kualitas komunikasi dengan anak- anak? Apakah tergesa- gesa?

Berikut adalah kekeliruan dalam berkomunikasi sehari- hari yang orang tua tidak sadari ⤵

12 gaya populer, kekeliruan dlm komunikasi

1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/label
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10. Mengkritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

Kiat berbicara dengan anak adalah kita harus memposisikan diri 2- 3 tahun di atas anak kita.

♧ Abai terhadap tantangan zaman.

2. Mengasuh Generasi Alpha

• Generasi Y lahir tahun 1980-1994
• Generasi Z lahir tahun 1994-2009
• Generasi Alpha (lahir 2010 -2025)
– Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan, olahraga, tidur)
– Semua serba cepat, instan menantang dan menyenangkan
– Mereka terbiasa multiswitching
– Mereka memiliki tata nilai yang berbeda

3. Beban Pelajaran Terlalu Berat

70% Anak masuk SD sebelum usia 7 tahun
46% Anak di sekolah 6- 7 jam sehari
25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang
52% Guru di sekolah masih memberikan 1- 2 PR
18% Anak mengikuti les matapelajaran setelah pulang sekolah
25% Anak mengikuti les 2-3 hari dalam seminggu
Standart kelulusan Indonesia tertinggi di seluruh dunia

4. Peer Pressure ➡ tekanan yang dialami seseorang karena pengaruh dari lingkungan sosialnya

5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain

6. Perubahan nilai dalam masyarakat kita.

 LALU HARUS MULAI DARI MANA? 

❣➡ Selesaikan urusan dengan diri sendiri dan pasangan

Selesaikan PR-PR masa lalu (Innerchild within). PR masa lalu ini adalah PR saat masa kecil, yang pernah disakiti saat masa kecil. Maafkan. Minta sama Allah untuk selesaikan. Jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, jangan ragu untuk minta tenaga ahli (psikolog, psikiater).

❣ ➡ Mulai dari ibu bapaknya

Bagaimana mengajarkan anaknya sholat kalau orang tuanya tidak sholat?
Bagaimana bisa menyuruh anaknya sholat ke masjid kalau orangtuanya tidak pernah mengajak ke masjid?

Kecintaan pada masjid itu menggunakan perasaan dan butuh pembiasaan.

Bapak dan ibu harus bekerjasama.

Menjadi orang tua adalah Partnership. Dimana didalamnya diperlukan Niat baikKejujuranKeterbukaan dan Harapan yang tinggi akan hubungan yang menyenangkan dan bahagia sambil bekerjasama mencapai tujuan yang ditentukan. Mengkombinasikan Kepribadian, Kepemilikan, Akal, Bakat dan seluruh kemampuan.

Kenapa orang tua harus berubah terlebih dahulu? Karena orang tua adalah Role Model anak. Anak akan ikut persis ayah ibunya. Jika mau sadari sebetulnya kita hutang banyak sekali pada anak kita. Saat kita salah pengasuhan, maka kita berarti menabung untuk kesalahan yang sama dalam mendidik cucu kita. (Dosa – dosa pengasuhan ➡ https://goo.gl/PdpgYo )

ROLE MODEL  Kenal  Tahu  Suka  Mau  Bisa Biasa/Terampil

♡ Kesepakatan dan Kerjasama Orangtua ♡

✔ Tentukan siapa pengambil Keputusan. Ayah penentu GBHK (Garis Besar Haluan Keluarga) dan Ibu adalah UPT (Unit Pelaksana Teknis). Dudukkan ayah di singasananya. Untuk para istri, jangan lebih tinggi sebenangpun dari suami.
✔ Lakukan Perencanaan – Pelaksanaan – Evaluasi
✔ Buat target masing- masing anak. Buat kurikulum sesuai usia anak.
✔ Pembagian kerja sama
Misal : Ibu siang mengajari anak. Ayah malam mengisi kultum.
✔ Kontrol
✔ Dasarnya Musyawarah!

Anak2 butuh pelukan supaya jiwa tidak hampa.

Mengasuh anak tidak bisa tergesa-gesa
– Anak usia 1-5 tahun : butuh 20 tahun masa pengajaran
– Anak usia 5-10 tahun : butuh 15 tahun masa pengajaran
– Anak usia 10-15 tahun : butuh 10 tahun masa pengajaran.

 Sadari : “sasaran tembak” pengasuhan

1. Penyembah Allah. Anakku harus sholeh dulu, baru pintar akademis. Tujuan berkeluarga : menjadikan anak yang mencintai Allah dan BAHAGIA

2. Pribadi muslim yang kaffah (Luqman : 12-22)

• Tauhid
• Akhlak
• Ibadah
• Berfikir kritis
• Mandiri dan Bertanggungjawab
• Psikososial : Empati, Beramal
• Etos kerja yang baik
• “A pleasant person to be with”

  Kenali keunikan dan tahapan perkembangan otak anak

Siapa anak kita ?

💛 Masing- masing anak UNIK. Sesuaikan setiap tahap pengajaran dengan kondisi anak anda. Jangan ikut- ikutan anak orang lain.

💛 Otak baru berhubungan sempurna 7 tahun.

💛 Hubungan antara Sistem Limbik ke Corteks Cerebri sempurna 19 – 21 tahun, tapi dalam Islam 14 tahun (aqil baligh), dalam islam tidak ada istilah remaja. Itulah mengapa anak usia 17th bisa jd pemimpin perang.Karena pengasuhan dalam islam.
Prefrontal cortex (PFC) adalah bagian otak yang membedakan antara manusia dengan hewan. Prefrontal cortex terletak tepat di belakang dahi. Fungsi dari otak bagian ini adalah untuk berpikir, merencanakan, memutuskan sesuatu, mengontrol emosi dan tubuh, memahami diri sendiri, empati pada orang lain, dan juga moral. Orang-orang yang punya kepribadian dewasa adalah orang yang punya prefrontal cortex yang tumbuh dengan baik. Pornografi adalah salah satu yang bisa merusak PFC. Kalau otak akademis ada di dalam bagian otak yang lain. Jadi ada anak yang mungkin kemampuan akademisnya bagus, tapi jika PFC nya rusak, maka akhlak dan moralnya rendah.

💛 Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa.

💛 Hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak- kanakan.

💛 Bantulah anak mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya

Anda adalah rumah produksi maka hasilkanlah anak- anak yang tidak hanya terpelajar, tapi terdidik, termasuk cara dia beribadah.

Paradigma – CARA PANDANG diubah
Anak bukan saja BISA tapi SUKA beribadah

Maka jadikan anak yang menjadikan ibadah itu hal yang menyenangkan.
Jadi kita identifikasi dulu anak kita udah di tahap apa, baru KENAL kah, baru TAHUkah atau sudah ke tahap SUKA. Ada anak terlihat SUKA tapi TIDAK MAU ibadah. Bisa jadi memang anak baru di tangga TAHU.

  Orang tua harus mengetahui landasan ibadah yang menyenangkan

💕 Landasan Ibadah Menyenangkan 💕

♡ Landasan Spiritual :

• Qur’an – Hadits
• Pendapat para ahli

♡ Landasan Medis :

• Cara kerja otak

♡ Landasan Psikologis :

• Mudah dibentuk
• Daya ingat yang kuat : belajar di waktu kecil
• “Dunianya” terbatas
• Ikut Role Model

💜 Landasan psikologis 5 – 8 th

• Mudah dibentuk
• Daya ingat yang kuat
• “Dunianya” terbatas
• Meniru : Ikut Ortu/ situasi
• Rasa persaudaraan sedunia

Ibadah untuk anak usia 5 – 8 tahun Bukan kewajiban tapi perkenalan, latihan dan pembiasaan.

Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak tapi kewajiban bagi orang tua mengajari.
Misal : sabar menghadapi anak usia ini jika mereka belum bisa duduk tenang saat diajarkan mengaji, malah main air saat diajak berwudhu, atau masih belum bisa sholat dengan khusyuk (main- main). Sebagai orang tua jangan emosi, kendalikan diri.

Ciptakan WIRING MENYENANGKAN dengan 3B  BERCERITA, BERMAIN, BERNYANYI.
Bercerita atau berkisah adalah metode pembelajaran jaman rasulullah. Ajarkan sifat- sifat Allah cerita dan peraga. Anak generasi alpha harus memakai alat peraga. Tidak bisa kalau hanya dengan bicara.

💜 Landasan Psikologis Anak 9- 14

• Otak sudah sempurna berhubungan
• Umumnya : Mukallaf (muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama dan yang sudah dapat dikenai hukum bila melanggar)
• Emosi sering kacau
• Tugas sekolah semakin berat + les
• Banyak aktivitas + Internet & Games
• Peer Pressure sangat kuat

Hal- hal yang perlu diperhatikan

✔ Fokus pada target tahun ini : tanggung jawab seorang yang sudah Baligh
✔ Perlakuan dan Komunikasi sebagai Teman
✔ Bisa menjadi pendamping / pembimbing adik- adiknya
✔ Diberi tanggung jawab sosial : mengantar makanan berbuka, membayar zakat dan kerja sosial yang mudah sesuai usia
✔ Dagang

💜 Landasan Psikologis usia 15- 20

• PFC hampir sempurna berhubungan
• Dewasa Muda
• Semakin banyak Aktivitas + Internet & Games
• Mulai pacaran, seks bebas, Narkoba
• Orientasi semakin di luar rumah

Hal hal yang perlu diperhatikan 

✔ Fokus pada target tahun ini : Dewasa muda, Fiqih Nikah
✔ Perlakuan dan Komunikasi sebagai sarana orang dewasa
✔ Bisa menjadi Motivator, pembimbing adik- adiknya
✔ Penggerak/ koordinator kegiatan anak dan Remaja Mesjid dan Mushalla

 Persiapan pengetahuan dan cara menyampaikan 

⛤ Ibu bapak belajar lagi untuk bisa menjelaskan : “Mengapa?: “ Why, why?”
⛤ Jelaskan keharusan dan larangan Faedah dan Ganjaran
⛤ Pendekatan positif, Ringkas dengan contoh kongkrit
⛤ Gunakan Qur’an Hadits sebagai referensi
⛤ Perhatikan kaidah
⛤ Lamanya waktu persiapan: usia dan kemampuan anak, kondisi fisik dan karakternya

💕 Siap Mengatasi Masalah 💕

🔥Gunakan kata- kata yang memahami perasaan
🔥Banyak mendengar aktif
🔥Hindari menggunakan kata- kata yang menghambat komunikasi
🔥Berkesempatan dan biasakan anak untuk Berfikir, Memilih & Mengambil Keputusan
🔥Sampaikan “pesan saya”

  dan Kaidah yang harus diperhatikan

🌹 Jangan lupa berdo’a dan tetap semangat dan bersungguh sungguh.

“Maka bersungguh2 lah karena Allah senang dengan orang yg bersungguh-sungguh”

🌹 Katakan kepada mukmin untuk menahan pandangan dan kemaluanmu.

🌹 Allah tahu apa yang kamu kerjakan.

🌹 Jangan pernah berputus harapan dari rahmat Allah.

Tips sukses :

1. Sayang sama bunda
2. Sholat tepat waktu pergi ke Masjid (untuk anak laki- laki)
3. Puasa senin kamis
4. Baca Al – Qur’an pagi sore

Selamat Berjuang!

1. MILIKI KEKUATAN KEHENDAK
2. BAYANGKAN
3. DOA

https://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/

Bring your kids to work

Melibatkan anak dalam seluruh aktifitas anda sehari2 itu semi-wajib, apakah itu dalam kegiatan sehari2 (seperti mencuci piring sndiri, merapihkan tempat tdr), ibadah (dari yang wajib sampai yg sunnah) berbicara, berpakaian, dan lain sebagainya, ataupun hal-hal yg tdk bisa anda libatkan setiap harinya.

Salah satu cara unik yang baru saja akhir2 ini saya lakukan adalah melibatkan anak2 untuk..ikut bekerja dengan ayah. Jaman saya sekolah dulu, ada hari yang namanya ‘bring-your-kids-to-work day’. Itu adalah hari dimana (teman2 yg pernah tinggal di luar jg pasti pada tahu) anak2 boleh bolos dan ikut ke ‘kantor’ ibu dan ayahnya seharian. Dan semua kantor2 dan perusahaan2 jg sdh di informasikan bahwa hari tersebut akan banyak anak2 yang akan ikut ayah dan ibunya ke kantor. Mulai dari CEO perusahaan ternama sampai tukang cuci kamar mandi sekolah. Apa yang dilakukan anak? melakukan apa yang ayah/ibunya lakukan sepanjang hari. yang dokter ya bantu periksa pasien, yang tentara ya latihan menembak mungkin, yang pembersih wc ya ikut membersihkan wc, dan seterusnya.. sepanjang hari.

Apa yang di pelajari anak dari proses ini?

1. Hidup itu susah.

Uang tdk turun dari langit hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Yang ayahnya direktur ya harus rapat pakai otak, memanage bawahannya yg mungkin ribuan, menangani masalah yang berat-berat, presentasi dan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Dr situ anak belajar strategic planning, problem solving, keberanian utk tampil di dpn org dan negosiasi. Yang ayahnya tukang sampah tahu bahwa ayahnya membanting tulang, bergumul dengan buangan orang lain, dengan tenaga, menahan bau, sepanjang hari, lebih dari 300 hari setahun, selama..berapa..30th?? Dari situ anak belajar kebersihan, daur ulang, dan adversitas. belum yang ayahnya tentara, ibunya waitress di restoran, ayahnya pilot dan ibunya dokter, bayangkan betapa banyak yg bisa anak pelajari?

2. Malas bukan pilihan.

yang ibunya guru, anaknya bs lihat ibunya berdiri di depan kelas berjam-jam, mengoreksi soal setelah murid-murid pulang dan menyiapkan utk pelajaran esok hari. Yang ibunya buka catering, anak bs lihat bahwa tangan ibu yang luka-luka itu karena tangannya terpotong pisau dan terpercik minyak panas. Dan setelah memasak, ibu msh harus menaruh makanan tsb ke tempat2nya, dan mengantarnya ke masing2 pelanggan. Utk bisa hidup, orang harus bekerja. Ada proses yang harus dilalui, dan malas bukan pilihan.

3. Syukur.

Ini konsep abstrak yang paling penting. karena selama ini konsep ini umumnya tdk di miliki anak2. Mereka tidur di ruangan ber-ac. Gk tahu-menahu yang beli ac pake keringet siapa, yang bayar listrik ac tersebut pake lelahnya siapa. Bangun, makan pagi, tau-tau nya sdh tersedia semua diatas meja. Yang bayar roti, nasi, dan gas yang memasaknya, terima jadi. Sekolah di tempat yang terbaik yang orgtuanya bisa bayar (yg kdg sebetulnya gk bisa bayar, cm krn anaknya minta disitu, di paksa2in bisa). Di antar jemput, yang bayar bensin jg gk perduli siapa. Pulang, main tab, mandi, makan lagi, semua dilakukan tanpa rasa syukur. Mereka pikir hidup enak amat, krn hidup itu enak bagi mereka. Mereka tahu bapak (dan ibunya) kerja, tp mereka tidak tahu sekeras apa bapak harus bekerja utk hidup mereka yang enak itu

Dulu, di hari ‘bring-your-kids-to-work day’, krn ayah saya tdk bekerja krn beliau sedang mengejar pendidikan s3nya, saya jadi ikut ibu saya yang kadang menjadi babysitter dr hampir 10 anak2 dari bayi 2 minggu sampai anak kelas 3SD, atau menjadi ‘pembantu pulang-pergi’ dari seorang super kaya yg ada di kota kami itu. Jadi saya ikut menjaga anak2, menceboki dan menyuapi anak-anak itu dan membantu motong2 bahan makanan sambil ibu saya mempersiapkan makan malam utk org kaya tapi baik hati. Luar biasa apa yang saya bisa pelajari dari pengalaman tersebut yang menjadikan saya orang seperti saya sekarang ini.

Berbekal pengalaman itu namun karena saya belum di kasih kesempatan oleh Allah untuk membesarkan anak-anak saya di luar negri, saya harus cari jalan agar anak-anak saya memiliki pengalaman yang sama. Tapi karena kantor suami saya super ketat pengamanannya, jadi saya pikir kami hanya akan bisa sampai kedepan gedungnya saja.

Hampir setiap hari ayahnya bercerita tentang betapa penuhnya kereta api disaat dia pulang dan pergi bekerja. Saya pikir, “haa…! Anak2 harus tahu bagaimana perjuangan ayahnya stiap hari”. So pergilah kami ke stasiun sudimara suatu pagi pas liburan tengah semester kemarin. Malamnya sdh saya jelaskan apa yang akan kita lakukan esok hari dan kenapa. Sesampainya di peron, saya menjelaskan lagi apa yg akan kita hadapi. Sepasang suami istri yang mendengarkan penjelasan saya kepada anak saya, senyum2 sendiri, mgkn saking anehnya ‘kejadian’ ini. Awal masuk kereta saja, sdh luarbiasa penuhnya, tp lumayanlah, masih bisa bernafas. Si kecil yg berusia 2th digendong ayahnya, yg sulung usia 6.5, bersama saya. Dari 1 stasiun ke stasiun lainnya smakin padat dan akhirnya anak saya, yg sebtulnya persis di dpn saya,sampai tdk tampak saking tenggelamnya di arus org2 dewasa yg sdh tdk manusiawi itu. Orang2 yg di sekitar kami sdh berteriak2 mengatakan “ada anak kecil,jangan dorong’, tapi arus yang masuk mana perduli kan?

Tadinya saya berpikir bisa membuat ‘pagar tangan’ utk melindungi anak saya dr gencetan manusia, ternyata bayangan saya tentang ‘penuh’nya kereta spt yg suami saya ceritakan, berbeda dg kenyataannya. Mau saya gendong, tdk bisa jg, krn slain anak saya pastinya sdh sangat berat, keadaan sdh tdk memungkinkan. Akhirnya 2 org bapak2 berbaik hati berdiri dari kursinya dan memberikan kami duduk. Ayah menyodorkan si kecil utk ikut duduk dan lama2 tdk tampak lg oleh kami, terdesak entah kemana diantara kerumunan banyaknya manusia.

Lima stasiun setelah itu, di tujuan akhir tanah abang, akhirnya semuanya keluar dan kami kembali bertemu dengan ayah. Rencana awalnya kita jg mau ikut sm ayahnya naik angkot, (biar anak2 tahu bahwa ‘penderitaan’ ayahnya belum berakhir di tanah abang), cm melihat keadaan anak-anak, saya rasa itu sdh tdk bijak. Akhirnya kami memutuskan utk pulang dan say bye2 sm ayah yg akan meneruskan ‘perjalanan jihad’nya.

Perjalanan pulang jauh lbih lapang. Sesampainya di rmh, dan semuanya telah cukup beristirahat, saya bilang sm anak saya yg sulung bahwa yg kita lewati itu baru “satu step dari perjalanan yg biasanya ayah tempuh dan lihat bagaimana susahnya. Ayah begitu setiaapppp hari nak, 5x seminggu, bertahun-tahun-tahun. Banyak step yg kita tdk jalani yg biasa ayah lewati. Jalan dr rmh smp depan komplek, naik angkot ke sudimara, ngelewatin sesak spt td, naik angkot lagi smp ke kantornya. Di kantor kerja smp jm 5. Pulang melalui proses yg sama. Hidup itu nak ..susah. Uang tdk jatuh dr langit, hrs pake usaha,keringat dan nggak pake malas”, saya bilang.

Bensin, sekolah, ac, listrik, makanan dan kenikmatan2 lain yg kamu nikmati, semua krn ayah melewati proses itu. Setiap hari. 5x seminggu. Bertahun-tahun-tahun. Jadi kita kita harus bersyukur. Bersyukur sama allah sdh memberikan ayah pekerjaan. Dan berterima kasih sm ayah yang mau melakukan itu utk kita, biar kita bisa makan, sekolah dan hidup enak.

Tentunya kata-kata saya sdh tidak perlu lagi, karena dia sudah melewati sndiri prosesnya. Dia tahu betul bagaimana dia kegencet begitu rupa. Sekarang, mrk jd jauh lbh menghargai ayahnya. Kalau ayah pulang, di ksh air minum dan lain sebagainya.

Saya tahu, jutaan ayah lain mgkn bekerja lebih keras, tp utk anak saya, itu sdh cukup ‘keras’ dibanding kehidupannya yg nyaman setiap hari.

Saya berencana melakukan ini setiap kali liburan tiba, apalagi anak saya kedua-duanya laki2. Proses ini sekalian memberikan gambaran bahwa laki-laki harus bekerja, utk istri dan anaknya. Semoga proses ngantor (dan kehidupan) mereka kelak jauh lebih nyaman dr ayahnya. Tp konsep konsep yg mereka pelajari dr proses ini tetap saya anggap penting utk menjadikan mereka laki-laki dewasa yang baik dan bertanggung jawab.

Saya sangat berharap suatu hari pemerintah Indonesia menggalakkan program yg sama. Karena saya lihat proses ini banyak manfaatnya. Tapi jangan tunggu pemerintah, go ahead .. and bring your kids to work!

#sarrarisman

*jika di rasa manfaat, tdk perlu izin utk membagikan artikel ini

https://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/page/4/

ibadah menyenangkan di era digital

Bismillah..

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus shalihaat
(segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya sempurnalah seluruh kebaikan)

Hari ini, sekali lagi, saya berkesempatan menghadiri seminar bu Elly Risman : “Ibadah Menyenangkan di Era Digital”. Ini kalau saja saya bisa berkisah prosesnya seperti apa hingga saya bisa duduk bersama para undangan, ada dari MCA (Muslim Cyber Army), ASA Indonesia, parenting writer and activist, serta dari YKBH (Yayasan Kita dan Buah Hati) yang jumlahnya hanya terbatas 100 orang, MasyaAllah lahaulawalaquwwata illabillah.

Bertempat di CEO Building Simatupang, acara dibuka dengan sambutan oleh Ayahanda Risman Musa. Banyak poin- poin nasihat kebaikan yang disampaikan beliau, dari istimewanya puasa arafah hingga tentang istimewanya pasangan yang telah Allah pilihkan untuk kita.

Sebelum materi inti, bu Elly memberikan pemaparan pembuka berupa fenonema FANDOM remaja Indonesia.

ANAK MASA KINI DAN FANS

Terpaan akan fenomena Hallyu Wave sudah mulai dirasakan di Indonesia. Masuknya drama-drama Korea dan juga musik K pop di beberapa stasiun televisi swasta menjadi buktinya. Kepopuleran musik K pop juga ditandai dengan merebaknya fansclub- fansclub atau yang biasa disebut dengan fandom (fan kingdom) turut mewarnainya.

What is actually happening when someone become a fandom?

Menjadi fans kelas berat mungkin saja menjadi cara individu untuk coping dr masalahnya (booth, 2011)

“Anak-anak kalau sudah ngefans bisa gak mikir lagi apa yang di fansnya. Bisa hal-hal yang aneh dilakukan anak demi fans nya. Maka pikniklah ke dunia anak, ketahuilah apa yang disukai dan di fans-kan oleh anak. Lalu lihat apa yang sedang disukai anak-anak, dan bahas bersama. Apakah benar atau gak apa yang dilakukan public figure itu.” Terang bu Elly setelah mengisahkan pengalaman keluarga beliau sendiri.

Proses seseorang menjadi fans :

• Identifikasi diri dengan kelompok yang memiliki karakteristik yang serupa.
• Kelompok-kelompok ini menjadi sumber kebanggan (pride) dan self esteem ➡ karena umumnya orang tua tidak menghargai anak. Anak jadi tidak punya harga diri. Anak tak punya kemampuan pengambilan keputusan, karena ibunya biasa hanya memerintah. Hal ini diperparah dengan kesalahan berkomunikasi menggunakan 12 Gaya Populer lainnya.
• Individu yg menganggap dirinya fans kelas berat cenderung untuk mengidentifikasi dirinya berdasarkan komunitas yang dia ikuti.

POIN – POIN PESAN DARI BU ELLY RISMAN untuk menjadi catatan kita semua ⤵

1. Selalu gunakan kalimat tanya saat kita berbicara ke anak-anak. Karena dari pertanyaan orang mulai berpikir kembali. Begitu juga anak-anak.

2. Jangan menasehati anak saat sedang sakit jiwanya, saat anak sedang marah. Karena tidak akan masuk.

3. Kenapa anak mau ngefans sama orang lain? Karena orangtuanya tidak bisa jadi fans untuk anaknya. Anak – anak biasa hanya diberikan perintah, marah serta hal negatif lainnya.

4. Buatlah komunitas yang baik untuk anak kita. Kalo mau anak kita baik, cari dan pilihlah lingkungan yang baik. Terus doakan anak kita agar mendapat teman yang baik sampai pasangan yang baik.

‎Allah berfirman :

“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

ttps://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/

anak adalah peniru ulung

Kakak main boneka.. Adik ikut main boneka, padahal kakak perempuan, adiknya pria. Abang manjat pohon, adik ikut manjat juga, tinggal emaknya yg teriak2 dr dalam rumah. Mas loncat2 di tempat tidur, adik ikutan juga, dengan kaki kotornya. Mbak pegang mainan apa, adik mau mainan yg itu jg. Walaupun sudah di kasih yg kembar persis, ga ngaruh. Mau nya yg di pegang kakaknya. Yang punya anak lebih dari 1 dan yg adiknya sudah bs merebut dan meniru, hafal betul adegan di atas. Kenyang sama rengekan si kakak karena sebel dikintilin dan di copy sm adiknya, si adik jg gaaaa bosan dan jera. Mending kalau cuma yang bagusnya aja yang di tiru.. Yang jeleknya juga. Lebih cepet malah. Dan nempel lama. Rabbana…

Proses mimicry atau meniru ini tampak sederhana, bahkan cenderung menyebalkan. Namun sejatinya hal ini adalah cikal bakal dari konsep peng’idola’an. Sebuah konsep yang sering sekali tidak tersentuh oleh para orangtua dalam pengasuhannya. Boro-boro menjelaskan tentang idola, bisa mandi, makan dan pup dengan tenang saja sudah menjadi hal yang langka. Tapi karena tidak tersentuhnya ini, maka sekarang semakin banyak kita temui, mereka yang mengidolakan artis, nasional maupun luar negeri, sampai ke level yang tak masuk akal lagi. Rela nabung untuk nonton konsernya, hafal semua lagu, dan jika idola mereka terhina, bela-belain sampai mati.

Pada dasarnya, memiliki idola sebetulnya sangat penting utk perkembangan anak. Mereka memerlukan 1-2 sosok yang mereka kagumi, tiru, memiliki kelebihan yg banyak dan menjadi contoh diri mereka di kala mereka sedang ‘mencari jati diri’. Idola yg ideal kalau menurut ajaran agama kita tentunya rasulullah, tapi dari beberapa dekade lalu saja lewat sebuah polling, sudah terbukti bahwa sudah tidak lagi begitu. Kita begitu kecewa pada hasil polling itu sampai kita tidak tahu lagi mau menyalahkan siapa dan memenjarakan si pembuat pollingnya. Di mana seharusnya kita berterimakasih, karena dia justru membuktikan bahwa ada yang salah di pengasuhan kita. Itu.. generasi kita. Apalagi berpuluh tahun setelahnya.

Tapi bagaimana tidak anak-anak sekarang lebih suka sama Rihanna? Mereka lebih sering terpapar dengan katy perry dan raisa di banding sirah2 nabawiyah. Gimana tidak? Ibunya saja di tanya siapa menantunya Nabi Syuaib, sama sekali tidak tahu apa2. jd yaaa, jika mereka mengidolakan yg lbh sering mereka lihat dan dengar, wajar saja. Mungkin bukan anak anda.. tapi anak teman2 anda , atau tetangga.. dan jutaan anak lainnya di negeri ini.. di luar sana… punya idola yang salah. Karena pemahaman tentang idola tidak pernah di bahas di rumah.

Jadi sebetulnya pengidolaan tanpa kita sadari, di mulai sejak dini. Sama saudara yang lebih tua, muda, atau bagi anak tunggal, dengan orangtua atau pengasuh utama mereka. Mulainya hanya meniru, lalu mengagumi. Jadi sebetulnya itu dulu yang harus di install sama si abang. Bahwa si adik menganggap kakak itu keren, bagus, jadi harus diikuti. Dan kalau kita memberikan contoh yang baik dan di ikuti oleh orang lain, pahala nya juga kita dapati.

Tapi…ya ini hanya penjelasan untuk kakak yang berusia di atas 5. Sebelum itu memang seharusnya belum punya saudara. Karena mereka masih bonding sama orangtua, dan belum bisa memahami makna ‘abstrak’ seperti halnya idola. Kalau sebelum usia 5 sudah punya adik, ya berarti derita ibunya, kudu ngadepin drama setiap hari tanpa bisa melakukan apa2, hehehe (baca: saya tidak punya solusi untuk menjelaskan idola ke anak di bawah usia 5, maafkan saya.)

Semakin kakaknya besar, semakin banyak yang harus di instal tentang idola. Bahwa semua org yg kita idolakan memiliki sisi negatif karena mereka hanya manusia. Suka sama seseorang tidak lantas kita mengikuti semuaaaaa yang ada padanya. Yang ia pakai, katakan, apalagi gaya hidupnya. Ber’idola’ boleh, tapi jangan sampai me’nuhan’kan. Demi nonton konsernya semuanya dikorbankan. Demi mengikuti gaya rambutnya, rambut yg keriting jadi ikut diluruskan. Meniru abis, nggak karuan. Idolakan org yang baik, dengan cara yang baik pula. Bukan gaya hidupnya yg hrs diikuti, tp lebih ke cara berpikir bahwa kita suatu hari harus ‘sehebat’ itu juga. Jadi mengidolakan itu sebetulnya BUKAN berarti meniru. Karena mengidolakan itu mengagumi kehebatannya tapi kita tetap menjadi diri kita sendiri. Kalau meniru, bisa jadi kita ikutan meniru kesalahan-kesalahan yg org itu lakukan, kan rugi.

Anak juga harus bisa memilah milih dari siapa yang dia idolakan. Mengidolakan rasulullah bukan berarti mengikuti jejaknya beristri sembilan. Tapi wajib mengikuti sunnahnya, jadikan teladan. Demikian juga kalau mengidolakan artis manca negara. Kita gk ngikutin kebebasannya mengumbar aurat kemana-mana, karena memang mungkin ajaran agamanya beda sama kita. Tapi yang di ‘idolakan’ adalah ke istiqamahan dia untuk tdk berhenti berusaha sampai dia bisa di kenal oleh dunia. Dia tdk berhenti berkarya dan karya nya kadang memberikan semangat dalam kata2nya. Untuk menjadi sehebat dia, kita mungkin harus meramunya dalam bentuk yang berbeda, tapi kalau kita jadi bisa menebar manfaat bagi orang banyak, kan bagus juga.

Di zaman yang edan ini, ada baiknya kita ‘mengikuti’ perkembangan anak2 kita scr dekat sehingga kita tahu apa siapa yg mrk suka dan tdk. Agar jika ‘idola’nya kurang baik, bisa kita perbaiki. Jika kita tidak suka pilihan idola2 mereka, mungkin waktunya introspeksi diri. Karena manusia hanya mengidolakan orang yang mereka kenal dan kagumi. Jadi jika anak saya mengidolakan Messi daripada nabi Ibrahim yg luar biasa berani, pintar dan rendah hati, atau nabi ismail yang super taqwa di usia yg begitu dini, maka jelas ada yang bolong dalam pengasuhan saya sehari-hari.

Jadi mulai besok, ketika si kakak mulai mengeluh adiknya mengikuti semua yang dia lakukan, pahami perasaannya bahwa itu memang menyebalkan. Tapi itu hanya karena adik ngefans berat sama kakak luar biasa, lebih banyak daripada dia ngefans sama ayah dan mama. Jadi idola, kak, memang susah. Bakal di tiru semua perilaku dan gayanya. Tapi kakak akan jadi orang hebat suatu hari nanti, dan harus mulai latihan punya fans, mulai dari adik sendiri.

Dan ke adik, kalau sudah bisa di bilangin, kudu di kasih tau juga. Bahwa orang nggak suka diikuti segala-galanya. Dan nggak semua apa yang mas pegang dan kerjakan diikutin juga. Karena mas suka lupa dan salah dan tidak ada manusia sempurna. Jadi yang di tiru, yang baik2nya saja.

Esok, ketika hal ini terjadi lagi, lihatlah sebagai sebuah jendela. Celah dan kesempatan dimana ayah dan ibu bisa meng-install makna idola. Terkadang memang dalam pengasuhan, sesuatu yang begitu penting, muncul dalam bentuk yang begitu sederhana. Jangan sampai anda kehilangan momennya.

Children are great imitators, so give them something great to imitate. -Unknown

#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini
** mohon untuk tidak menuliskan pertanyaan pada kolom komen, karena khawatir tidak terbaca dan terjawab. Terima kasih.

https://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/

Peterpan Syndrome dan Cinderella Complex

​Ini adalah Resume dari yang sudah pernah mengikuti Seminar Parenting Peterpan Syndrome dan Cinderella Complex. Semoga bermanfaat 
Rivalino Shaffar

Yesterday at 6:28am · 
Sedikit OLEH-OLEH dari seminar parenting Peter Pan Syndrome dan Cinderella Complex dgn narasumber Ibu Elly Risman yg diorganisir oleh Supermoms, 24 Oktober 2015.
(Diringkas oleh peserta seminar: Rivalino Shaffar CCC-Certified Career Coach. Ringkasan ini hanya menyampaikan sebagian materi yg kompleks sesuai pemahaman penulis.)
Seminar dibuka dengan tingginya perceraian terutama oleh pasangan muda di Indonesia. Dan lebih dr 60% perceraian krn meloloskan permintaan istri untuk bercerai. Kenapa banyak pernikahan muda bercerai (1 cerai:10 pernikahan)? Dan kenapa istri banyak meminta cerai? Salah satu faktor adalah peter pan syndrome dan cinderella complex yg menyebabkan KDRT, ketidakharmonisan dan perselingkuhan.

Orangtua yg memberikan semua kebutuhan dan keinginan anaknya bahkan ketika anak belum memintanya akan membuat anak memiliki Adversity Quotion (AD) yang rendah. AD adalah kemampuan utk tabah dlm masalah, “tahan banting” dlm menghadapi masalah hidup. (Saat ini profesional yang memiliki AD yg tinggi banyak dicari oleh perusahaan dan salah satu modal penting sbg entrepreneur-tambahan penulis).

Jika anak tsb laki2 yg ber-AD rendah, sangat mungkin memiliki Peter Pan Syndrome dan yang perempuan memiliki Cinderella Complex. Dalam pergaulan mereka akan mudah menyerah pada pengaruh negatif spt narkoba dan lebih mungkin memiliki anak di luar nikah. Ketika menikah laki laki ini tidak bs bertanggung jawab ketika masa sulit dan atau serba bergantung pada istri yg dianggap sbg Ibunya yg mengatur/menyediakan semua kebutuhan dr ikat pinggang sampai tukang yg akan membetulkan genteng. Yang perempuan sbg istri akan mencari suami yg mampu memberinya segalanya dan akan mudah meminta cerai di saat sulit.

Sebaiknya orangtua mulai membiasakan diri melatih anak-anaknya utk BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan). Lebih sering lah menggunakan kalimat tanya spt “bagaimana perasaanmu ttg hal ini?”, “apa yang kamu perlu lakukan?, “apa dampaknya kalau kamu melakukan hal itu?” (Dalam ilmu leadership, teknik ini digunakan dalam sesi coaching-Penulis). Dengan nada datar dan intonasi tidak menyudutkan. Gunakan gaya parenting otoritatif, yaitu keseimbangan antara ekspektasi ortu dan dukungan ortu/ kasih sayang atau keseimbangan logika dan cinta. ortu memberi harapan/ekspektasi yang tinggi sekaligus memberi dukungan, misalnya “papa pengen kamu melakukan hal ini, bagaimana papa bisa membantumu?” Siapkan anak utk masa depan dengan mempertimbangkan 8 aspek perkembanga: Keimanan, ibadah, Akhlak, emosi, kecerdasan (logika, nalar dan akademis), sosial, fisik&kesehatan dan seksualitas (memahami diri dan lawan jenis).

Seminar ini juga menitik beratkan pada peran ayah dan menyembuhkan luka psikologis para ortu. Peran ayah sbg pemimpin keluarga saat ini lemah sehingga istri dan anak kehilangan panutan yg memberi contoh ketegasan, keberanian dan melindungi dgn penuh kasih sayang. Oleh karena itu pahami inner child diri dan pasangan. Inner child adakan kondisi kejiwaan yg membekas dr masa kecil. Inner child tidak selalu buruk namun perlu secara bijaksana disikapi. Seorang ayah yg dulunya kehilangan Ibu dari kecil akan bisa tergantung pada istrinya. Seorang istri yang dulunya dididik terlalu mandiri oleh ayahnya akan tidak mau dibantu suaminya.

Poin penting

1. Bantu anak bisa mengambil keputusan sendiri dgn banyak bertanya ketika anak sdg banyak PR, dalam konflik dgn temannya, dll. Sedikit menasehati tetap boleh.

2. Pahami bahwa ekonomi keluarga tidak selalu naik dan anak2 akan menjalankan kehidupan rumah tangganya sendiri jadi ajar anak2 sesuai perannya. Laki laki menjadi suami dan ayah yang tegas, berani, melindungi dgn kasih sayang dan anak perempuan yang merawat dan melindungi penuh kasih sayang.

3. Kita membesarkan anak-anak di era digital shg ortu harus tahu games, bacaan, tontonan dan pergaulan di sosmed/gadgetnya.

4. Ortu perlu memahami inner child diri sendiri dan pasangannya dan mulai menjembatani kebutuhan dr inner child tersebut sehingga orangtua (walau pun sudah bercerai) tampil kompak dlm mendidik anak (dual parenting).

5. Bantu anak memilih pasangan hidupnya dengan mengajarkan bagaimana memilih teman yang baik serta memberi contoh bagaimana seorang suami memperlakukan istri dan seorang ayah memperlakukan anaknya. Ingat, kita tidak sekedar memilih menantu tapi juga memilih besan krn cara calon besan mendidik anaknya (calon menantu kita) mempengaruhi kejiwaan calon menantu tsb. Ajarkan anak utk mempertimbangkan cara marah calon pasangannya.

6. Orangtua jangan lupa menjalankan peran sbg suami dan istri karena akhirnya Anda akan tinggal berdua. Jangan sibuk memikirkan dan menjalankan peran ayah dan Ibu namun lupa merawat kasih Anda sbg suami dan istri. Anak2 bisa merasakan hubungan kasih ayah kepada ibunya (dan sebaliknya) dan hal mempengaruhi cara pandang anak thd makna pernikahan dan mencari pasangan dr lawan jenis. Hal ini juga membantu Anda hidup dengan indah stlh anak-anak sibuk dan berkeluarga.

7. Laki laki memilih otak lebih berat 50 gr dibanding perempuan. Namun otak perempuan memiliki corpus collosum,jembatan otak kiri dan otak kanan, yg lebih tebal. Laki laki lebih rasional, kurang empati dibanding perempuan dan fokus pada solusi. Perempuan lebih emosional, insting lebih tajam-langsung bertindak cepat, namun sambil berpikir. Hal ini menyebabkan perlunya pendekatan berbeda antara anak laki laki dgn perempuan spt bicara pada suami/anak laki2 jangan lebih dr 15 kata sedangkan dgn istri/anak perempuan bisa berpanjang lebar.
Sumber-sumber penting: Buku Ilmu Memeluk Anak ditulis oleh Ibu Elly Risman dan tim, facebook group: Kita dan Buah Hati, youtube: SEMAI 2045.
Note: SEMAI artinya Selamatkan Masa Emas Anak Indonesia. Gerakan ini utk mengantisipasi pendapat bahwa 100 tahun Indonesia merdeka anak2 Indonesia akan serusak-rusaknya generasi.

​Warna warni dari masa kecil


Umumnya, kenangan masa kecil selalu indah bagi siapa saja, termasuk bagi  Presiden Obama yang dalam berbagai kesempatan beliau berpidato menyinggung tentang kenangan masa kecilnya di Indonesia, yang mungkin bagi pendengar di beberapa bagian di Amerika tidak begitu mengenal dimana 

Indonesia.

“ Saya teringat waktu saya masih kecil hidup di Indonesia selama empat tahun, ibu saya membacakan kalimat pertama dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika…”.

Para ahli mengatakan tujuan hidup manusia itu diwarnai oleh memorinya waktu seseorang itu masih kecil, buktinya apa yang terjadi pada Presiden Obama. Obama mengakui bahwa jalan hidupnya banyak diwarnai oleh usaha ibunya  dan filosopi hidup yang diajarkan oleh bapaknya.

ibunya memperkenalkan pada Obama lewat bacaan dan cerita  bahwa semua  manusia memiliki  kesamaan hak  dalam mencapai kebahagiaan hidup. Inilah salah satu hal yang  telah menginspirasinya untuk berjuang meraih kedudukan paling tinggi di negerinya : Presiden Amerika!

Contoh lain adalah apa yang disampaikan oleh Presiden Obama dalam salah satu sambutannya  ditahun 2010 ketika beliau melakukan kunjungan ke negaraan ke Indonesia, beliau menceritakan kenangan manisnya sekitar 40 tahun yang lalu ketika mengendarai becak, bemo serta  membeli dan  makan  sate.  
Selain itu,  para ahli juga mengatakan bahwa kenangan masa kecil itu berfungsi dalam menentukan identitas diri dan berperan dalam menentukan arah kehidupan seseorang nantinya.

Kalau anak dengan jelas dapat menerangkan kenangan masa kecilnya biasanya juga dapat  mewujudkan keahlian yang mengandung hal yang sama dengan apa yang pernah dialaminya sewaktu kecil. Misalnya waktu kecil ikut atau membantu orang tuanya bertani, maka  bisa saja pengalamannya itu  akan mempengaruhi atau mengilhaminya kemudian menjadi peternak ikan. Dan tidak sulit baginya untuk terbiasa dan menjalani kehidupan yang  mandiri.
Kalau dari kecil anak diajak bersama orang tuanya untuk berdagang, maka akan  ada kecenderungan  kalau dia sudah besar, berdagang menjadi bagian dari hidupnya, walapun dia berprofesi lain tapi  dagang bisa saja menjadi  kegiatan sambilan yang tidak bisa ditinggalkannya.

Begitu juga halnya kalau orang tua sering membacakan dongeng sebelum tidur, atau kegiatan kebersamaan lain  yang dapat menjadikan anak menghargai arti kehangatan dari sebuah keluarga, maka insha Allah ketika mereka menjadi orang tua, mereka  dan akan mengulang melakukannya bersama keluarganya pula. 
Begitulah pentingnya mewujudkan kehangatan sebuah keluarga, dan mengisi kehidupan masa kecil anak dan cucu dengan kenangan manis.
Disisi lain, tak bisa kita hindari bahwa  nasib dan jalan hidup orang beda beda, sehingga  warna masa kecil seseorang tidak semuanya indah. Karenanya tidak sedikit pula orang memiliki masa kecil yang kelam, pedih dan bahkan sangat menyakitkan. Sebagaimana halnya dengan kenangan manis, maka  goresan kepedihan dan pengalaman kelam yang menimbulkan trauma itu  juga sering muncrat bahkan bisa muncul dalam bentuk kebiasaan yang tidak mampu dikendalikan oleh seseorang walaupun dia menyadari dan menyesali keburukan dari apa yang  dilakukannya itu.

Apa yang paling menyedihkan dalam hal ini adalah, kebiasaan dan pengalaman buruk itu sebagaimana juga pengalaman dan kebiasaan yang menyenangkan tak sengaja mewarnai kehidupan seseorang dan juga  diturun temurunkan. Sejarah, mau tak mau berulang. Naudhubillah.
Itulah mengapa, diusia kami  yang makin senja sekarang ini kami  bermaksud semaksimal mungkin ingin membantu memberi warna bagi kehidupan cucu cucu kami dengan kenangan positif. Disamping tentunya ada kenikmatan dan kerinduan sendiri bagi kami  bercengkrama bersama mereka. Alhamdulillah.

Ada kepuasan tersendiri bagi kakek,bahwa cucunya dapat berenang atau bersepeda karena si kakek yang mengajarkannya. Bahagia sekali sinenek kalau cucunya mengenal huruf hijaiyah dapat mengaji serta hafal bacaan sholat dan berbagai ketrampilan hidup praktis karena kontribusi nenek.

Makin berbunga bunga hati ini bila mengingat apa yang kita sumbangkan pada cucu itu insha Allah  akan mewarnai kehidupan dewasanya kelak dan insha Allah  menjadi amalan jariah yang terus mengalir pahalanya. 
Banyak orang mungkin termasuk anda juga  yang senang membuat kenangan manis bukan saja bagi keluarga tetapi juga bagi orang banyak. Seorang teman saya bahagia sekali mengatakan bahwa masjid di desa dia waktu pertama kali ada loudspeaker, dia lah yang pertama azan. Teman yang lain dengan bangga mengatakan masjid yang sering dilewatinya kalau kekantor, dia adalah khotib jumat pertama disitu. Masjid itu sekarang sudah tambah besar, makmur dengan  berbagai kegiatan dan sudah dilengkapi dengan AC. 
Ada lagi  dua orang teman kuliah saya dulu yang selama bertahun tahun menjadi lurah di dua wilayah yang berbeda di Jawa tengah. Keduanya mempunayi kebiasaan yang sama yaitu  suka membagikan ikan ke warganya. Mereka punya kolam kolam ternak ikan dan beberapa diantaranya memang diperuntukkan untuk warganya. Siapa saja boleh mengambil  asal bilang dan jumlahnya disepakati dulu dengan pak lurah.. subhanallah.. 
Untuk itu ayolah kita rencanakan untuk mewarnai dan mengisi memori  anak cucu kita dengan sesuatu yang bermanfaat dan dapat jadi kenangan manis yang abadi bagi mereka yang  dapat mengispirasi mereka dalam menatap hidup mereka kelak. Dengan itu kita berharap kita dapat menghapus kenangan buruk yang mungkin pernah mencoret jiwanya dan memastikan  bahwa apa yang mereka wariskan kepada anak turunan mereka nanti adalah hal hal yang benar dan indah saja. Semoga warna indah yang kita  lukiskan  ini  tetap mereka kenang walaupun kita telah lama dipanggil Allah keharibaanNya. 
Selamat mengecat warna warni yang indah dalam memori anak keturunan kita.
Bekasi MInggu, 4 Desember 2016.

Risman Musa

#GrandParenting.

https://catcheighteen.wordpress.com/category/parenting/parenting-with-elly-risman-family/page/3/

Create your website with WordPress.com
Get started